Oleh: Bang Jeki
Seorang teman tadi malam meneleponku dan bercerita tentang hubungan dengan pacarnya yang—menurutnya—“punya gangguan kejiwaan, dimana emosinya naik turun.” Teman ini, seorang perempuan yang punya pekerjaan mapan dan sedang mengambil studi magister, bercerita bahwa ia diselingkuhi oleh kekasihnya tersebut semenjak akhir 2010 lalu. Lelaki yang dicintainya itu bolak balik, mengutip kata-katanya, “menyuruh gue untuk melupakannya, lalu beberapa hari kemudian menelepon dan meminta maaf dan mengatakan masih mencintai, kemudian minggu depannya marah-marah dan menyalahkan gue sebagai penyebab gagalnya hubungan kami, lalu minta maaf kembali keesokan harinya. Begitu berlangsung berulang, bahkan sampai minggu lalu.” Aku bertanya padanya, “Lalu apa yang kau lakukan?” Jawabnya singkat tapi dengan suara pelan, khas orang yang yang menyesal, “Gue selalu memaafkan dan menerimanya kembali, karena gue tahu pada dasarnya dia lelaki yang setia dan baik. Gue berharap ia akan berubah.” Continue reading →